Sikap Tepat terhadap Penderita TBC

Sikap Tepat terhadap Penderita TBC - Kalau dahulu sebelum tahun 60-an bagi penderita TBC, ini ada satu rumah sakit khusus bagi mereka, yang dikenal sebagai Rumah Sakit Paru ataupun Sanatorium Paru yang biasanya terletak didaerah pegunungan.

Penderita TBC dirawat di rumah sakit yang khusus ini karena kekhawatiran masyarakat, termasuk keluarga penderita TBC itu sendiri terhadap kemungkinan terjadinya penularan penyakit ini kepada mereka.

Penderita TBC itu sendiri juga merasa “tidak enak”, kalau harus tinggal bersama-sama dengan keluarganya dirumah, akibat kekuatiran tentang kemungkinan penularan penyakitnya kepada anak, isteri/suami ataupun anggota keluarga dan anggota masyarakat yang lainnya. Itulah sebabnya penderita secara sadar akhirnya mau dirawat di rumah sakit yang khusus ini karena penyakit TBC yang dideritanya. Tidak jarang pada waktu itu, seseorang yang dicurigai menderita penyakit TBC ini, selalu akan dikucilkan oleh keluarga dan jiran tetangganya.
Sikap Tepat terhadap Penderita TBC

Sama seperti penderita penyakit kusta, penderita penyakit TBC ini juga pada waktu itu selalu dijauhi dan diasingkan oleh kerabat dan masyarakatnya. Pernah terjadi pada waktu itu, rumah beserta isinya dari keluarga yang ada penderita penyakit TBC ini, dibakar habis oleh warga setempat, agar mereka pindah dari desa semula.

Tidak jarang pula, kalau penderita TBC ini seorang pekerja atau seorang guru misalnya, dia akan diberhentikan dari pekerjaannya. Atau sekurang-kurangnya penderita TBC ini akan diberikan cuti selama satu tahun penuh, sampai penyakitnya benar - benar sembuh dan dia pulih seperti semula.

Kalaupun ada penderita TBC yang dirawat dirumah, pastilah dia akan diberikan ruangan tersendiri. Demikian juga dengan peralatan untuk makan dan minum, seperti gelas, piring, sendok dan garpu tersendiri. Seorang penderita TBC, walaupun sudah selesai berobat dan sembuh, tetap dianggap berbahaya (karena itu tetap harus dikucilkan), karena masih dianggap bisa menularkan penyakitnya kepada orang lain.

Ironisnya, bukan saja masyarakat awam yang boleh dikatakan pengetahuan mereka pada waktu itu tentang penyakit TBC ini sangat rendah sekali, tetapi juga tenaga-tenaga medis, termasuk para dokter pada masa itu, dalam melayani penderita penyakit TBC ini tidak jarang tetap menggunakan masker penutup muka disertai sarung tangan lengkap dengan penutup kepala secara berlebihan.

Apakah sikap sedemikian terhadap penderita penyakit TBC ini sekarang, agar mereka tidak menularkan bibit penyakitnya kepada orang lain, harus dipertahankan ?

Bagaimanakah sikap kita yang sebaiknya terhadap penderita penyakit TBC ini?

Penularan TBC

Bapak Ilmu Kedokteran, Hipocrates, seperti sejarah yang pernah kita sebutkan dulu, 400 tahun sebelum masehi menyebutkan bahwa penyakit TBC ini termasuk penyakit keturunan. Pernyataan yang tidak benar ini juga dikemukakan oleh Galenus pada tahun 131 Masehi, yang menyebutkan bahwa penularan TBC ini dapat terjadi karena memakai peralatan untuk makan untuk minum dan pakaian yang sama dengan penderita.

Barulah kemudian Robert Koch, pada tahun 1882 dapat membuktikan bahwa penyakit TBC ini disebabkan oleh kuman yang disebut Mycobacterium tuberculosis, yang dapat diketemukannya pada organ yang terkena penyakit itu. Kuman inilah yang ditularkan dari seorang penderita penyakit TBC kepada orang lain yang sehat.

Suatu hal yang perlu diingat, bahwa penularan kuman TBC ini hanya dapat terjadi apabila penderita TBC ini batuk atau bersin dan mengeluarkan dahak yang mengandung kuman TBC itu berupa Basil Tahan Asam atau BTA, yang dapat dilihat dibawah mikroskop, sebelum penderita minum Obat Anti TBC (OAT).

Setiap kali batuk, penderita TBC ini akan mengeluarkan beribu-ribu butir dahak keudara. Butir-butir dahak yang besar akan jatuh ke lantai dan tidak bisa menularkan TBC lagi. Butir-butir dahak yang kecil akan melayang diudara, yang biasanya mampu membawa sebatang kuman TBC. Butiran halus dahak inilah yang bisa melewati semua percabangan saluran pernafasan dari yang paling besar sampai yang paling kecil di paru-paru, yang akhirnya akan sampai kebagian paling ujung dari saluran ini, yang dikenal sebagai alveolus.

Inilah yang merupakan cara penularan dari kuman TBC dari seorang penderita kepada orang lain yang sehat disekitarnya.

Tidak terjadi penularan

Di India pada sekitar akhir tahun 1960-an, telah dilakukan suatu penelitian tentang keampuhan OAT yang diberikan kepada penderita TBC. Penelitian dilakukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) bersama dengan Badan Penelitian dari Inggris dan dari India sendiri. Perlu diketahui pada waktu itu, OAT yang dipakai baru sebatas INH, PAS dan Streptomisin.

Penelitian yang terbesar dalam sejarah pemberantasan penyakit TBC ini dilakukan pada penderita dari kalangan sosial ekonomi yang rendah didaerah sekitar Madras, India. Penderita yang diteliti mempunyai dahak dengan BTA (+), dengan kelainan paru yang cukup luas. Penderita ini dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok yang dirawat di rumah sakit Paru/Sanatorium dan kelompok yang berobat jalan.

Penderita yang dirawat dirumah sakit mempunyai gizi makanan yang cukup baik, sedangkan penderita yang berobat jalan tidak diberikan makanan tambahan, termasuk tambahan vitamin, susu ataupun minyak ikan. Jadi makanan dari mereka yang berobat jalan ini, sangat bersahaja sesuai dengan tingkat ekonomi mereka yang tidak berkalori tinggi dan tidak mengandung protein dengan jumlah yang besar. Mereka ini juga tetap bekerja sebagai biasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari - hari. Begitupun kedua kelompok ini diberikan pengobatan dengan OAT secara teratur dan baik.

Hasil penelitian di Madras (india) ini cukup menggemparkan karena :

1. Tidak terjadi suatu penularan penyakit TBC kepada keluarga, walaupun penderita dengan BTA (+) ini tetap tinggal satu rumah dan satu lingkungan bersama - sama dengan keluarganya.

2. Penderita yang berobat jalan dan berobat secara teratur, ternyata angka kesembuhannya tetap sama seperti juga penderita yang dirawat secara khusus dirumah sakit. Walaupun penderita yang berobat jalan ini tetap bekerja dan beraktivitas seperti biasa, sedangkan yang berada di rumah sakit mendapatkan istirahat yang cukup baik, diberi pula perawatan jasmani, rohani dan sosial yang memadai dengan makanan yang bergizi baik serta lingkungan yang bersih dan nyaman dan juga dengan perawatan yang maksimal.

Dari penelitian ini dapat ditarik kesimpulan, bahwa :

1. Begitu pengobatan dengan OAT dimulai, proses penularan penyakit TBC dapat dicegah secara total, seperti keadaan memisahkan sumber penularan dari lingkungan keluarganya.

2. Pengobatan rawat jalan, yang dirawat secara seadanya dengan makanan yang bersahaja, lingkungan keluarga yang tidak terlampau mendukung dan penderita yang tetap bekerja sebagaimana biasa, hasil pengobatan dengan OAT yang diberikan dengan teratur, tidak kalah keberhasilan penyembuhannya, dibandingkan dengan mereka yang dirawat dirumah sakit khusus ataupun di Sanatorium.Walaupun mereka yang dirawat dirumah sakit ini keadaan gizi makanannya cukup terjaga baik, dengan lingkungan yang tenang dan sehat, serta perawatan yang berlangsung secara sempurna.

3. Lain lagi penelitian yang pernah dilakukan di negeri Belanda pada sekitar tahun 1950-an. Pada waktu itu belum lagi diketemukan OAT yang seampuh seperti yang sekarang ini. Suatu kebiasaan bagi para pelajar dinegeri Belanda pada waktu itu, pada saat mereka liburan panjang, mereka menambah pengalaman dan menambah uang saku mereka dengan mencoba bekerja diberbagai tempat, termasuk di Rumah Sakit Khusus/Sanatorium Penyakit Paru. Rumah Sakit ataupun Sanatorium ini merawat penderita penyakit TBC dengan BTA (+). Para siswa yang bekerja dirumah sakit/sanatorium tersebut semuanya belum pernah terinfeksi dengan kuman TBC, artinya tes Mantoux mereka negatip. Mereka memang tidak bekerja untuk melayani penderita TBC dibangsal rumah sakit tersebut. Mereka hanya bertugas mencuci sprei, sarung bantal, selimut, handuk, baju tidur ataupun pakaian penderita TBC itu. Setelah selesai masa liburannya, mereka berhenti bekerja dan dilakukan kembali tes Mantoux, untuk mengetahui apakah ada di antara mereka yang tertular dengan kuman TBC. Ternayata tidak seorangpun dari siswa-siswa ini yang tadinya mempunyai tes Mantoux negatip berubah menjadi tes Mantoux positip. Ini berarti tidak ada seorangpun dari siswa tersebut, yang ditulari oleh kuman TBC, walaupun mereka selama berminggu-minggu kontak secara langsung dengan bahan-bahan atau alat-alay yang di pakai oleh penderita penyakit TBC dirumah sakit ataupun sanatorium tadi. Kenyataaa ini yang berlangsung selama bertahun - tahun mendukung pernyataan, bahwa penularan TBC hanya dapat terjadi melalui udara dan sama sekali tidak bisa melalui barang ataupun pakaian yang dipergunakan oleh penderita TBC secara pribadi.

Mengatasi Penularan TBC yang Benar

Seorang peneliti, Dr.A. Riley (1970) membuktika bahwa dahak pendenderita TBC dengan BTA (+), dapat ditularkan kepada binatang percobaan. Tetapi pada saat penderita mulai minum obat-obat OAT, kuman TBC tidak lagi dapat menulari binatang percobaan.

Jadi apa yang terjadi di Madras, India dengan penderita manusia, juga terbukti pada binatang percobaan, dimana pengobatan OAT dimulai, langsung juga penu-laran penyakita TBC ini dapat dicegah.

Seorang peneliti yang lain, Prof. J.Grosset (Prancins), mengatakan bahwa pada saat pendenderita TBC dengan BTA (+) diobati, frekuensi batuknya akan berkurang. Dengan demikian jumlah percikati dahak yang dikeluarkannya juga ikut berkurang, sehingga kuman TBC dalam dahak tadi tentunya berkurang pula.

Disamping itu kuman-kuman TBC dalam dahak tadi akan kehilangan kemampuannya untuk berkembang biak, selama beberapa jam atau beberapa hari.

Kuman TBC yang telah terkena dengan obat-obat OAT jika dihirup oleh seseorang yang sehat, dan mampu memasuki paru-parunya, tidak akan bisa berkembang biak dan dengan mudah akan dapat diatasi oleh Zat antibodi pada oraag yang sehat tadi. Artiaya orang ini tidak akan ditulari oleh kuman TBC dari orang-orang yang telah mendapatkan pengobatan dengan OAT.

Jadi boleh dikatakan, bahwa penderita TBC dengan TBA (+) pun, bila pengobatan TBC pada dirinya telah dimulai, tidak akan bisa sama sekali menularkan kuman penyakit itu kepada orang lain. Jadi jelaslah bahwa cara pencegahan penularan pemyakit TBC ini yang paling baik dan paling cepat, adalah dengan pemberian obat-obatan OAT kepada penderita sesegera mungkin secara baik dan teratur.

Sedangkan penyakit TBC yang tidak mengenai paru -paru, seperti TBC kelenjar bening, tulang, otak, usus, alat kelamin, ginjal dan yang lainnya lagi, ataupun jaga TBC pada anak, yang biasanya semuanya BTA (-), tidak akan bisa menular kepada orang lain.

Sikap yang tepat terhadap penderita TBC

Dari uraian diatas, jelaslah bahwa tidak semua penderita penyakit TBC, akan menularkan kuman TBC nya kepada orang lain yang berada di sekitarnya. Yang dapat menular hanyalah kuman TBC, yang berasal dari penderita TBC yang dahaknya yang BTA (+), Begitupun setelah penderita ini diberikan obat-obat OAT, dia tidak akan menularkan kuman TBC-nya lagi kepada orang lain.

Karena itulah penderita TBC tidaklah perlu diasingkan lagi dirumah sakit khusus ataupun sanatorium TBC, seperti yang dulunya. Dia juga tidak perlu diistirahatkan dari pekerjaannya, selama dia mampu bekerja sebagaimana biasanya. Boleh dikatakan jarang sekali ada penderita TBC yang perlu mendapatkan cuti sakit, kecuali jika penderita banyak mengalami batuk darah, menderita sesak nafas yang berat ataupun disertai adanya komplikasi yang lain dari paru -parunya.

Penderita TBC yang sudah lama terbaring sakit, dengan berat badan yang menurun menjadi kurus kering dan lemah pula, karena penyakit TBC yang dialaminya sudah cukup lama, sudah barang tentu tidak bisa diharapan bekerja sebagaimana biasanya. Dia juga tentunya perlu istirahat dan mengambil cuti kerja.

Begitupun karena sebagian besar di antara kita, termasuk para petugas kesehatan, yang masih menganggap bahwa penyakit TBC ini dapat menular dengan hebat, selalu mengambil sikap yang cukup keras terhadap penderita TBC. Tidak jarang para karyawan penderita penyakit TBC ini, yang telah mendapatkan pengobatan OAT dengan teratur, tetap dianggap dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain. Karyawan seperti ini selalu ditolak masuk kerja sebagaimana biasanya, sebelum ada' pernyataan bahwa penyakit TBC nya sudah sembuh secara sempurna.

Ada pula karyawan lain penderita penyakit TBC ini akan mengambil cuti panjang antara 6-9 bulan atas perintah atasannya langsung, karena kekuatiran terjadinya penularan kepada karyawan yang lainnya. Karena itulah surat keterangan sakit, juga harus dibuat dengan hati-hati, karena bisa saja seorang karyawan, seorang supir pribadi, seorang pembantu rumah tangga, seorang baby sitter dan sebagainya, bisa langsung dipecat atau diberhentikan dan dipulangkan ke kampung halamannya oleh maji kannya, karena diketahui menderita penyakit TBC, walaupun barang kali penyakitnya sudah tenang ataupun sudah lama sembuh, atau sedang dalam pengobatan dengan OAT.

Bagaimana pula halnya bila seoraug ibu penderita TBC yang mempunyai bayi kecil, apakah pemberian ASi dari ibunya harus dihentikan?

Atau juga seorang pria penderita TBC yang akan segera melangsungkan per-nikahanya, apakah pernikahannya ini harus ditunda?

Tidak perlu sama sekali. Ibu penderita TBC dengan BTA (+), tetapi mendapatkan pengobatan dengan OAT secara baik dan teratur, tetap dianjurkan meneruskan pem-berian ASl-nya langsung kepada bayinya.

Demikian juga halnya dengan penikahan dari seorang penderita TBC, tidak lah perlu ditunda, asal saja penderita ini tetap melakukan pengobatan OAT dengan baik. Penderita TBC yang berobat secara teratur dapat bergaul sebagaimana biasa dengan orang lain di sekitarnya, apakah itu ibu atau ayahnya, apakah itu anak, isteri ataupun suaminya, apakah itu jiran tetangganya, apakah itu adik atau kakaknya, serta keluarganya yang lain lagi, dan seterusnya.

Dan bagi penderita TBC, setiap kali batuk, haruslah menutup muut dengan kedua tangannya dan membersihkan tangannya dengan sabun sebersihnya. Selain itu tiap membuang dahak, seorang penderita TBC haruslah membuangnya pada tempat dengan air yang mengalir.

Subscribe to receive free email updates: